Sejak kecil gadis hitam manis ini sudah di kenal dengan keramahannya, sikap riangnya kerap membuat teman-teman sepermainannya selalu ingin terus bersamanya. Gelak tawanya yang begitu lepas membuat orang tuanya merasa bahagia dan lega karena mengetahui putri kesayangannya menikmati hidupnya.
Dengan segala kekurangan yang di miliki orang tuanya Seruni selalu menciptakan dunia yang berbeda untuk keluarga kecil ini. Ya, pak Dharman yang menderita tuna rungu dan ibu Yanti yang juga tuna netra sejak lahir. Kondisi kedua orang tuanya tidak membuat Seruni lantas menjadi anak yang pemurung dan minder justru dia selalu melakukan hal-hal baik yang orang dewasa pun terharu melihatnya.
Merawat orang tuanya, membereskan rumah dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke Sekolah selalu seperti itu rutinintasnya bertahun-tahun dan kini Seruni sudah lulus dari bangku SMU. Kegelisahan mulai melandanya, dilema antara keinginannya bekerja untuk mencukupi biaya hidup keluarga kecil ini atau tetap dengan kondisi seperti tahun-tahun kemarin yang hanya harus hidup dengan pengahasilan yang pas-pasan dari hasil membuat tikar anyaman.
Keinginan besarnya untuk merubah nasib membuatnya harus berfikir keras setiap harinya, hingga suatu hari dimana awal pertemuannya dengan seorang Ibu cantik nan kaya raya. Seruni langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan ibu tengah baya yang begitu ayu itu. Cahya, seniman keroncong yang tersohor masa itu.
Rupanya mereka saling jatuh cinta, setelah pertemuan pertama terus terciptalah pertemuan-pertemuan selanjutnya yang selalu di nanti oleh mereka berdua. Mereka bak sepasang merpati yang saling meridukan satu sama lain, begitu mesra dan bahagia di setiap perjumpaannya.
Rupanya mereka saling jatuh cinta, setelah pertemuan pertama terus terciptalah pertemuan-pertemuan selanjutnya yang selalu di nanti oleh mereka berdua. Mereka bak sepasang merpati yang saling meridukan satu sama lain, begitu mesra dan bahagia di setiap perjumpaannya.
Hingga suatu hari Seruni menemukan foto kecilnya di dalam dompet Ibu Cahya, gemuruh hatinya bergejolak ingin segera mengetahui alasannya. Namun setiap dia menatap wajah ayu-nya melemahlah hasratnya dan di pendamnya berbulan-bulan.
"Saya merasa kau sedang ada masalah Seruni?" tanya ibu Cahya sambil membelai rambut hitam Seruni. "Kenapa hanya menggeleng saja? ada yang kau rahasiakan dariku? aku tidak mau ya ada rahasia diantara kita, bagiku kau segalanya. Kau adalah aku dan aku adalah kau!". Ibu Cahya berlalu dengan wajah kesal.
Kini genap satu tahun kebersamaan mereka, perlahan rasa janggal Seruni membesar bak bola salju yang terus menggulung menjadi bulatan besar dan Seruni pun memutuskan untuk tidak menemui ibu Cahya lagi. Tidak diam ibu Cahya melihat sikap Seruni berubah.
Ibu Cahya : "Kau bisa kan menemaniku makan malam ini? Saya janji ini permintaanku yang terakhir, mau ya? ku mohon padamu Seruni!".
Seruni : "baik bu, Saya akan datang malam ini" dengan wajah sedikit cemas.
Ibu Cahya : "jangan lupa gunakan gaun terbaikmu yang pernah ku belikan di Pasar Malam" sambil tersenyum bahagia, "jangan hanya mengangguk!"
Alunan lagu lama terus berkumandang, sesekali terhenti karena sudah hampir rusak. Suasana makan malam ini begitu kelam dan mencekam terasa lebih "kagok", dua insan ini hanya saling diam dan sesekali mencuri pandang kaku menandakan sudah tidak ada kecocokan di antara mereka.
"Makan lah yang banyak Seruni" serunya, "belum tentu esok kau bisa makan seperti ini, maksud ku makan enak seperti ini" sambil menyuap sepotong daging kedalam mulutnya. "Bicaralah, jangan hanya mengangguk-angguk saja! kau mulai bisu?".
Dengan kondisi semakin ketakutan seruni mematung, hanya mampu menatap makanannya tanpa berani menatap ibu Cahya. Malam ini wajah ayu nan ke-ibu-an-nya memudar, hanya terlihat wajah sarat nan sadis. "Selama ini kau ku sayang layaknya putri kecilku yang tak pernah sempat ku timang, tapi apa yang ku dapat dari kau!" dengan nada yang semakin tinggi. Denting gaduh pertemuan antara piring, garpu dan pisau daging semakin mengganggu dan membuat Seruni semakin tegang.
"Kenapa kau malah menangis!... seharusnya aku yang menangis karena kau kecewakan, kau tidak lagi aku yang dulu! memang seharusnya kau ku biarkan saja, tak perlu ku sayang-sayang kau, hiks! dan kini ku kecewa... aku kecewa, kau dengar!!!". Amarah bu Cahya memuncak sambil terus mengeluarkan suara tinggi dan mengarahkan pisaunya ke arah Seruni.
Setengah jam bu Cahya memaki dan Seruni hanya merunduk, namun saat ini amarah itu sudah kembali mereda. Dengan tenang beliau menyajikan segelas anggur kesukaannya dan menuangkan satu gelas lagi untuk Seruni. "Maafkan Saya ya, saya belakangan banyak masalah dan tekanan", lalu bu Cahya mulai mengeluarkan senyum ayu kembali. Bu Cahya melangkah ke arah Seruni dan membawakan segelas anggur untuk Seruni "Minumlah, mungkin dengan sedikit meminum ini kita bisa lebih tenang dan aku harap kau mau memaafkan ku".
Seruni : "Bu... maafkan Saya" dengan nada terisak Seruni memeluk bu Cahya, "maafkan Saya jika saya mengecewakan Ibu".
Ibu Cahya : "Tidak nak, kau tetap kesayanganku. Sampai kapanpun kau adalah aku dan aku adalah kau, itu kenapa aku tidak suka kau kecewakan sayang".
Mereka pun saling berpelukan dan tiba-tiba saja Seruni terbatuk-batuk seolah tersedak sesuatu dan mengalir darah segar dari mulutnya, Seruni terus terbatuk dan semakin hebat batuknya, tangan mungilnya sudah mulai penuh dengan darah yang keluar dari mulutnya. Semakin lama pelukan itu pun meregang dan tubuh Seruni semakin melemas terhuyung jatuh ke bawah, tidak hanya dari mulutnya dari hidung, telingan dan juga matanya terasa perih deras mengalir darah, banyangan kematiannya mendekat tapi dari kejauhan Seruni mendengar suara tangisan ibu dan bapaknya.
"Seruniiii.... Pak Seruni kenapa ini? apa yang terjadi dengan seruni Pak". Tangisan bu Yanti, "kenapa kau melakukan ini nak? kau sudah tidak sayang dengan bapak dan ibu mu ya, Seruniiiii..." tangisan ibu Yanti semakin histeris. "Dia meminum racun serangga ini bu, ya ampun Seruniiii...." teriak pak Dharman di iringi tangisan keduanya.
Saat ini pak Dharman dan bu Yanti sedang menangisi makam baru yang masih basah, bunga-bunga segar menghias di atasnya. Seruni yang periang pun depresi dengan hidupnya, setahun terakhir dia sering menyebut dirinya Cahya dan seolah-olah tidak kenal dengan kedua orang tuanya dan kadang kala kembali mejadi Seruni, kegilaan ini sempat membuat bingun kedua orang tuanya namun apa yang mereka ketahui, di mata pak Dharman dan bu Yanti Seruni adalah Seruni, buah hati tercintanya. Mereka mencintainya sepenuh hati, mau menjadi siapapun bagi pak Dharman dan bu Yanti, Seruni adalah matahari bagi mereka namun sayang jalan hidupnya tidak seindah senyum manisnya.
Selamat Jalan Seruni, kau tidak akan pernah kesepian karena bu Cahya selalu menemanimu.
"Saya merasa kau sedang ada masalah Seruni?" tanya ibu Cahya sambil membelai rambut hitam Seruni. "Kenapa hanya menggeleng saja? ada yang kau rahasiakan dariku? aku tidak mau ya ada rahasia diantara kita, bagiku kau segalanya. Kau adalah aku dan aku adalah kau!". Ibu Cahya berlalu dengan wajah kesal.
Kini genap satu tahun kebersamaan mereka, perlahan rasa janggal Seruni membesar bak bola salju yang terus menggulung menjadi bulatan besar dan Seruni pun memutuskan untuk tidak menemui ibu Cahya lagi. Tidak diam ibu Cahya melihat sikap Seruni berubah.
Ibu Cahya : "Kau bisa kan menemaniku makan malam ini? Saya janji ini permintaanku yang terakhir, mau ya? ku mohon padamu Seruni!".
Seruni : "baik bu, Saya akan datang malam ini" dengan wajah sedikit cemas.
Ibu Cahya : "jangan lupa gunakan gaun terbaikmu yang pernah ku belikan di Pasar Malam" sambil tersenyum bahagia, "jangan hanya mengangguk!"
Alunan lagu lama terus berkumandang, sesekali terhenti karena sudah hampir rusak. Suasana makan malam ini begitu kelam dan mencekam terasa lebih "kagok", dua insan ini hanya saling diam dan sesekali mencuri pandang kaku menandakan sudah tidak ada kecocokan di antara mereka.
"Makan lah yang banyak Seruni" serunya, "belum tentu esok kau bisa makan seperti ini, maksud ku makan enak seperti ini" sambil menyuap sepotong daging kedalam mulutnya. "Bicaralah, jangan hanya mengangguk-angguk saja! kau mulai bisu?".
Dengan kondisi semakin ketakutan seruni mematung, hanya mampu menatap makanannya tanpa berani menatap ibu Cahya. Malam ini wajah ayu nan ke-ibu-an-nya memudar, hanya terlihat wajah sarat nan sadis. "Selama ini kau ku sayang layaknya putri kecilku yang tak pernah sempat ku timang, tapi apa yang ku dapat dari kau!" dengan nada yang semakin tinggi. Denting gaduh pertemuan antara piring, garpu dan pisau daging semakin mengganggu dan membuat Seruni semakin tegang.
"Kenapa kau malah menangis!... seharusnya aku yang menangis karena kau kecewakan, kau tidak lagi aku yang dulu! memang seharusnya kau ku biarkan saja, tak perlu ku sayang-sayang kau, hiks! dan kini ku kecewa... aku kecewa, kau dengar!!!". Amarah bu Cahya memuncak sambil terus mengeluarkan suara tinggi dan mengarahkan pisaunya ke arah Seruni.
Setengah jam bu Cahya memaki dan Seruni hanya merunduk, namun saat ini amarah itu sudah kembali mereda. Dengan tenang beliau menyajikan segelas anggur kesukaannya dan menuangkan satu gelas lagi untuk Seruni. "Maafkan Saya ya, saya belakangan banyak masalah dan tekanan", lalu bu Cahya mulai mengeluarkan senyum ayu kembali. Bu Cahya melangkah ke arah Seruni dan membawakan segelas anggur untuk Seruni "Minumlah, mungkin dengan sedikit meminum ini kita bisa lebih tenang dan aku harap kau mau memaafkan ku".
Seruni : "Bu... maafkan Saya" dengan nada terisak Seruni memeluk bu Cahya, "maafkan Saya jika saya mengecewakan Ibu".
Ibu Cahya : "Tidak nak, kau tetap kesayanganku. Sampai kapanpun kau adalah aku dan aku adalah kau, itu kenapa aku tidak suka kau kecewakan sayang".
Mereka pun saling berpelukan dan tiba-tiba saja Seruni terbatuk-batuk seolah tersedak sesuatu dan mengalir darah segar dari mulutnya, Seruni terus terbatuk dan semakin hebat batuknya, tangan mungilnya sudah mulai penuh dengan darah yang keluar dari mulutnya. Semakin lama pelukan itu pun meregang dan tubuh Seruni semakin melemas terhuyung jatuh ke bawah, tidak hanya dari mulutnya dari hidung, telingan dan juga matanya terasa perih deras mengalir darah, banyangan kematiannya mendekat tapi dari kejauhan Seruni mendengar suara tangisan ibu dan bapaknya.
"Seruniiii.... Pak Seruni kenapa ini? apa yang terjadi dengan seruni Pak". Tangisan bu Yanti, "kenapa kau melakukan ini nak? kau sudah tidak sayang dengan bapak dan ibu mu ya, Seruniiiii..." tangisan ibu Yanti semakin histeris. "Dia meminum racun serangga ini bu, ya ampun Seruniiii...." teriak pak Dharman di iringi tangisan keduanya.
Saat ini pak Dharman dan bu Yanti sedang menangisi makam baru yang masih basah, bunga-bunga segar menghias di atasnya. Seruni yang periang pun depresi dengan hidupnya, setahun terakhir dia sering menyebut dirinya Cahya dan seolah-olah tidak kenal dengan kedua orang tuanya dan kadang kala kembali mejadi Seruni, kegilaan ini sempat membuat bingun kedua orang tuanya namun apa yang mereka ketahui, di mata pak Dharman dan bu Yanti Seruni adalah Seruni, buah hati tercintanya. Mereka mencintainya sepenuh hati, mau menjadi siapapun bagi pak Dharman dan bu Yanti, Seruni adalah matahari bagi mereka namun sayang jalan hidupnya tidak seindah senyum manisnya.
Selamat Jalan Seruni, kau tidak akan pernah kesepian karena bu Cahya selalu menemanimu.
Jakarta, 2 Desember 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar