Sabtu, 06 Desember 2014

MATI

Sejenak nafas ini terhenti ketika merasakan dinginnya sebilah besi yang menembus jantungku, perih yang pernah di gembor-gemborkan pun tak juga ku rasakan, hanya ada hampa, sepi, kosong dan gelap. 

Seiring dengan rasa itu akupun merasakan semakin jauh, suara-suara di sekitarku yang menandakan pendengaran yang semakin memudar, pandangan yang juga semakin tidak fokus, terenggal-enggal nafas ini menandakan semakin dekatnya kematianku.

Diantara rasa itu terlihat sinar terang di hadapanku,semua terasa begitu putih, suci dan damai tapi tidak dengan ragaku, karena belum rela untukku melepasnya. Ku tetap memilih berada di tengahnya demi menjaganya, menyaksikannya membusuk dan tetap tak rela meninggalkan kisahku bersamanya.

Tangisku tak mampu mengulang masa-masa itu hanya perih dalam yang menyayat, tangan-tanganku pun tak pernah lelah terus mencakar tembok putih itu hanya untuk mengemis di kembalikannya masa laluku, namun lagi dan lagi itu semua tidak akan pernah terjadi.

Kematianku dengan penuh penyesalan!


Jakarta, 6 Desember 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar