Sejenak nafas ini terhenti ketika
merasakan dinginnya sebilah besi yang menembus jantungku, perih yang
pernah di gembor-gemborkan pun tak juga ku rasakan, hanya ada hampa,
sepi, kosong dan gelap.
Seiring
dengan rasa itu akupun merasakan semakin jauh, suara-suara di sekitarku
yang menandakan pendengaran yang semakin memudar, pandangan yang juga
semakin tidak fokus, terenggal-enggal nafas ini menandakan semakin
dekatnya kematianku.
Diantara
rasa itu terlihat sinar terang di hadapanku,semua terasa begitu putih,
suci dan damai tapi tidak dengan ragaku, karena belum rela untukku
melepasnya. Ku tetap memilih berada di tengahnya demi menjaganya,
menyaksikannya membusuk dan tetap tak rela meninggalkan kisahku
bersamanya.
Tangisku
tak mampu mengulang masa-masa itu hanya perih dalam yang menyayat,
tangan-tanganku pun tak pernah lelah terus mencakar tembok putih itu
hanya untuk mengemis di kembalikannya masa laluku, namun lagi dan lagi
itu semua tidak akan pernah terjadi.
Kematianku dengan penuh penyesalan!
Jakarta, 6 Desember 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar